Buku dan Jodoh

cats.jpgSetahun yang lalu, ya bisa dibilang seperti itu bila aku tak lupa, aku kembali dipertemukan dengan sosok laki laki yang cukup dewasa untuk sebuah pernikahan. Laki laki ini adalah dia yang dulu pernah singgah dan membuatku merasakan patah hati untuk pertama kalinya, perasaan kami tak pernah terwujud hanya karna dia memilih untuk menyembuhkan patah hati cinta pertamanya sendirian, dan itu bukan aku.

Tujuh tahun sebelum kami dipertemukan kembali, adalah kisah yang sangat aku hafal sebab akibatnya, dia adalah anak laki laki yang ambisius, setiap hal yang dia inginkan akan diusahakannya semaksimal mungkin hingga semuanya terwujud, sedangkan aku gadis selengehan, menyukai banyak hal secara random dan mudah puas atas apa yang aku dapati, berbeda dengan dia yang lebih mempertahankan. Masa masa itu adalah masa kami disibukkan dengan sekolah dan tugas, ditambah beberapa urusan pribadi masalah percintaan remaja pada umumnya. Hingga hubungan dia berakhir begitu saja, alasannya sederhanya karena waktu yang tak cukup, ya seperti itu la kira kira. Ntah karna apa aku mulai akrab dan memiliki perasaan yang seharusnya tidak pernah aku sampaikan, aku jatuh hati pada sosok yang aku kagumi perhatiannya. Aku semakin terlarut dengan kabar kabar yang sering kami bagi satu sama lain, hingga aku sibuk paskibraka, begitu pun dia yang sibuk dengan kegiatan duta nya, kami masih berhubungan, komunikasi kami tetap jalan walau pun dia mulai beranjak dari sekolah karna kelulusan, dan aku menyerah. Aku memyerah pada perasaanku, menyerah untuk memendamnya lebih lama, menyerah untuk berpura pura, dan menyatakan bahwa aku menyukainya.

Perasaanku terbalas, hanya saja kami tak bisa berjalan bergandengan. Patah hati nya mungkin cukup dalam, tak bisa disembuhkan dengan aku yang ternyata merasakan hal yang sama. Kenapa harus patah hati yang dia bagi? Sedangkan aku menjanjikan kesembuhan untuknya saat itu. Kenapa mesti aku yang terluka lebih dalam? Sedangkan dia hanya terdiam dengan aku yang mulai merelakan.

Dan setelahnya, aku bercerita kepada kakak laki laki ku, patah hati yang aku rasakan begitu menyakitkan, hingga sesak menjalar begitu cepat, tangis ku pecah, sakit, semua terasa menyakitkan, kenapa patah hati sesakit ini?

Aku belajar melupakan, menjadi kan dia kenangan yang patut aku pertahankan, karna darinya aku belajar banyak hal tentang cinta dan mengikhlaskan.

Komunikasi kami cukup baik, terkadang aku iseng memanggilnya melalui sosial media, atau hanya sekedar bertegur sapa dan bertanya kabar. Dan aku mendapatinya wisuda, ahh wisuda juga dia, dan aku kapan? Malu pada diri sendiri, selalu kalah dengan ego yang berlebih dan tak bisa ditahan, ego negatif yang susah aku tekan.

Waktu beranjak, hingga setahun yang lalu kami dipertemukan. Aku menyukai buku, buku apa saja bagiku sangat menyenangkan untuk dibaca, dan buku adalah alasan aku bertemu dengannya. Aku meminta hadiah buku syair syair Khalil Ghibran waktu itu, dia tidak pernah menyetujui untuk menyanggupinya, hanya saja dia mengusahakannya buku untukku. Buku itu sebenarnya hadiah wisudanya, ya sama seperti teman kampusku, aku juga meminta sebuah buku karna si teman telah wisuda.

Dia masih sama, tak ada yang berubah, tak banyak bicara jika tidak ada yang memulai, ntah la terkadang aku bingung dengan dia yang seperti itu. Lama sebelum itu, kami memang berniat ingin bertemu, bercerita banyak hal tentang perjalanan yang telah dilalui. Ya sharing pengalaman kata orang. Dan kali itu adalah waktu yang tepat, mungkin.

Hingga pembicaraan kami berjalan begitu saja, ia dengan kuliahnya yang dulu serta kerjaannya yang sekarang, mimpi mmpi tentang mati  sahid dan pernikahan. Jujur, aku gamang kala itu, bagaimana mungkin ia bercerita begitu lugas dengan ku? Seolah olah kami memang seperti itu adanya. Terlebih tentang niat nya ingin menikah, dan alasan alasan keluarga mya yang ia lontarkan begitu saja kepadaku. Ya Allah, aku tak sanggup berkata kata selain berkomentar seadanya.

Dan aku pada saat itu adalah seorang cewek yang belum cewek banget, dan aku yakin bahwa aku bukan kriteria dia, sedikit kecewa memang, tapi aku sadar akan ketidakpantasan yang aku punya untuk dia, dan aku mengubur apa pun itu tentang dia.

Karna buku yang aku minta tak pernah dibawakannya, alhasil teror pun aku layangkan, aku selalu menagih buku kepadanya, dan dia menjawab simple “kalau bukunya aku kasih sekarang, nanti aku gak punya alasan untuk ketemu sama kamu”, hati wanita mana yang gak luluh. Ya Allah, ighfirliy.

Hingga suatu hari, tagihanku datang lagi, aku menawarkan kalau pun bukan buku Khalil Gibran, buku apa saja aku terima, asalkan buku. Jawabannya kembali meruntuhkan iman “besok aku bawain buku nikah”, baper…gila aja gak baper. Tapi aku berusaha biasa aja menanggapi nya. Hingga tagihan buku itu selalu aku kasih, mempertanyakan buku, buku dan buku lagi.

Lalu, beberapa hari yang lalu aku meminta buku Hadits Arba’in kepadanya, buku hadits yang sangat bermakna, ntah kenapa hadits pertama dalam buku itu sangat menggiurkan, dan dia menyanggupi dengan buku hadits yang kecil, aku gak mau buku hadits yang kecil karna udah pernah baca, aku meminta yang ukuran sedang dengan beberapa penjelasan di dalamnya.

Dan seharusnya, hari ini kami bertemu dengan alasan buku itu, dia berjanji membawa buku itu untukku, pulang ke rumahnya yang cukup jauh dari temlat dia bekerja, dan berniat bertemu denganku. Hingga aku kesal, buku itu tertinggal, dia gak membawa buku itu. Ya sudahlah, aku berharap untuk tidak lagi mempertanyakan buku kepadanya sebelum dia mengirim foto beberapa buku yang dia beli untukku, oh tidakkk buku itu benar benar menggiurkan, walau pun tak ada hadits Arba’in, tak apa laa fikirku.

Dan entah kenapa, masalah buku beralih ke jodoh. Ntah la, aku tau dia memang udah berniat untuk menikah, tetapi dengan dia yg menyampaikan hal itu kepadaku, serasa ada yang nyeri, atau mungkin aku sedikit kecewa kalau ternyata aku tak pernah masuk kriteria dia, ntah la, aku pasrah akan takdir tuhanku.

“😒 gampang bgt bicara jodoh, kayak beli permen aja”

Nah kan, dia ngajak ribut, kalau gak berjodoh, kenapa gak dijodohkan? Bukankah cinta ada karna terbiasa? Aku malah percaya hal itu. Dan masalah jodoh buku yang seharusnya tidak dia lupakan, karna dia tidak berusaha menjodohkan aku dengan buku itu dan karna itu dia tidak memprioritaskan buku tersebut untuk dia pertemukan denganku.

Kesal, bagaimana tidak, hingga mendung bergandeng dengan hujan membuat suasana hatiku makin gak karuan. Ahh, dia memang cowok nyebelin kuadrat yang aku temui hari ini.

 

Ruang yang Bersebelahan

Sumatra Barat 18/03/17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s