Kisah Dia yang Menjadi Aku

Dia seorang wanita berumur 20 tahunan, beragama islam dari kecil, mengenal agamanya secara umum melalui; sekolah, Muda dan orang tua, sisanya baca buku tentang islam. Banyak ajaran agamanya yang melarangnya melakukan AIUEO begitu pun dengan kewajibannya sebagai muslim, ya mungkin dengan kata muslim pun sudah cukup membanggakan untuknya.

Suatu hari dia diminta melanjutkan sekolahnya di kota, meninggalkan tempat kelahirannya dan berpindah, walaupun jaraknya cuma setengah jam tapi terasa berbeda, alasan pindah sekolahnya cukup rumit untuk dijabarkan. Setelah lulus sekolah dasar, pilihan Smp favorit tentunya menjadi incaran, namun dibalik itu ada pilihan lain yang dia tolak mentah mentah, “bagaimana kalau kamu Smp di pesantren A?”. Dia tak pernah suka pesantren, baginya pesantren bukan tempat yang nyaman, tak ada kebebasan disana, tidur larut malam dan segala alasan yang dia ajukan agar tidak sekolah dan tinggal di pesantren. Akhirnya, kehidupannya berjalan seperti yang dia inginkan, bersekolah di sekolah favorit, mengikuti kegiatan bergengsi di tingkat sekolahnya, dan segala hal yang memang dia inginkam sedari dulu terwujud, hingga kini.

Beranjak kuliah, dia bertemu dengan beragam teman yang datang dari berbagai sekolah, termasuk pesantren. Mulai mengenal agamanya lebih baik lagi dari sebelumnya, dan berteman dengan akhwat yang notabene nya mengenal agama islam dengan baik, sebaik pakaian yang mereka kenakan, tentunya. Dia mulai goyah, berniat meninggalkan celana jeans kebanggaannya, namun itu baru keinginan, belum terwujud.

Komentar pedas tentang akhwat pun berselewengan di fikirannya, “apaan dia itu, baju dalam, jibab dalam tapi akhlak kok nyebelin banget sih?”, “ih gak banget deh sama yang kayak gitu, mulut kok gak bisa dijaga”, “ngakunya akhwat, tapi kok nyelekit banget omongannya”, “ada ya akhwat yang pacaran, mending di ganti aja tu gamis sama celana”, “biasa aja tu mata ngeliat cewek yg pake celana, berteman jangan pandang bulu donk”. Dia memikirkan banyak hal tentang akhwat yang gak baik, pandamgan masyarakat tentang akhwat yang akhlaknya gak mencerminkan pakaianya. Sampai suatu hari, dia membaca koran kriminal yang mengabarkan seorang pasangan muda mudi yang melakukan hubungan di stadion di kota yang dia tempati, dan dalam berita itu jelas terpampang foto akhwat yang sedang berc*****. Astagfirullah, dia yang berteman cukup banyak dengan laki laki tidak pernah melakukan hubungan sebejat itu. Kembali fikiran tentang akhwat menjadi hal negatif bagi dia.

Dan hadits hadits pun di jamahnya dengan baik, termasuk hukum anak perempuan yang melangkahkan kaki keluar rumah tanpa menutup auratnya, maka satu langkah ayahnya mendekati neraka. Ternyata itu tak cukup ampuh membawanya menjadi seorang akhwat yang seutuhnya.

Hingga suatu hari, sekitar lima novel islam dibacanya dengan seksama, bagaimana hadits hadits dijabarkan secara gamblang dalam novel tersebut, sunah dan hukum hukum islam pun disajikan dengan penjelasan yang sangat mudah dipahami, bagaimana kehidupan dipesantentren, dan berakhir dengan pernikahan yang sangat di idamkan oleh banyak wanita. Bagaimana bisa mendapatkan pasangan yang baik kalau nyatanya dia saja belum sebaik itu?, bukankah janji Allah itu mutlak, pasangan kita adalah cerminan kita. Ingin rasanya dia mempercayai hal itu, namun tetap saja tak mampu mengubahnya.

Pernah suatu hari dia mengutarakan keinginannya untuk berpakaian dengan baik, menutup aurat, menggunakan rok sebagaimana kodrat seorang wanita, tapi niat tinggal niat saat pemikirannya tentang akhwat begitu buruk.

Tepat dihari kembalinya dia dari kampung, dia berubah.
Malam malam keraguannya berakhir, tangisan hijrahnya terjawab. Dia membuka hati dengan islam yang dia punya, agamanya menetapkan banyak hal tentang kewajiban seorang wanita, bagaimana gayyah dan wasillah yang harus dia gapai, islam yang sebaik baiknya, islam dan akidah akhlak yang ingin diperbaikinya, tentang kewajiban seorang wanita yang sesungguhnya. Dia ingin belajar menjadi lebih baik, belajar sabar yang sebenarnya, belajar menjadi wanita yang seutuhnya, serta keinginannya tentang pesantren, dia ingin tinggal disana, belajar agama islam secara utuh hingga nantinya ajaran itu pula yang akan dia beri kepada anak anaknya kelak. Keputusannya bulat, hari itu dia melepaskan segala ornamen berstatus celana jeans, mengganti segalanya dengan rok dan jilbab yang menjulur ke dadanya karna memang itu yang seharusnya dia lakukan dari dulu.

Kini, dia belajar dijalan sabar, menahan ego yang menekan emosi yang dia punya, belajar sabar dengan kondisi apa pun, menerima putusan Allah dengan sabar, tawakal, istiqomah dan ikhlas.

Hingga dia adalah aku. Hijrah ku belum baik, ajarkan aku menjadi lebih baik, bertemu dengan orang orang yang baik, bersabar dengan sabar yang baik, ikhlas dengan segala keadaan dan istiqomah dengan hijrah yang aku pilih.

Ruang yang Bersebelahan
21 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s